Fajar Jatuh Menjelma Embun Cinta dan 7 Puisi Lainnya

Fajar Jatuh Menjelma Embun Cinta dan 7 (Tujuh) Puisi Lainnya merupakan kumpulan puisi yang dibuat pada tahu 2015. Kumpulan puisi Fajar Jatuh ini telah mengalami perubahan dan perbaikan-perbaikan, hal ini dilakukan untuk menyesuaikan segala aspek yang perlu dari sebuah puisi. Oleh karena itu, akan banyak perbedaan frasa dan kata dari naskah aslinya.

Harapannya, biarpun puisi Fajar Jatuh ini telah mengalami perubahan yang begitu signifikan. Cerita dan makna yang tertuang di dalamnya semoga dapat memberikan dampak positif. Semoga emperis kehidupan dan kejujuran yang termuat dalam kumpulan puisi ini bisa dipetik hikmahnya. Aamiin.

Fajar Jatuh
Image by klickblick from Pixabay

Fajar Jatuh Menjelma Embun Cinta

Menjemput bahagia dari pilu duka lara
Jauh di sana, terngiang suaramu
Kekasih yang tidak pernah terjamah waktu
dan rindu satu-satunya penentu
antara doa dan harapan-harapanku.

Ada sebuah pertemuan, tidak dijanjikan
apalagi disebutkan dalam sejarah kehidupan
Ketika setia adalah doa-doa
biarkan cinta menjelma fakta-fata
dan rindu adalah upaya yang lupa
diamini masing-masing dari kita.

Jika nanti telah sampai waktunya
semoga Tuhan menempatkan kita
pada satu waktu yang tidak bisa digugat
silamnya kenang maupun kepedihan.

Mengenang wajahmu sebelum subuh
memberitahu, bahwa sepertiga malam
laksana fajar yang jatuh pada setangkup
tanganmu, menjelma embun-embun cinta.

Cinta dan rinduku, seluruh rasa
dalam dadaku; Kamu

Terangkai tanpa pernah sampai
dalam pelukan dan kenyataan hidup.

Sampai nanti, ketika Tuhan merelakan
kau dan aku menjadi satu
tanpa perlu merasa takut
akan kehilangan dan kesedihan.

  • Puisi ini sebelumnya berjudul Dalam Dadaku, Kamu yang telah mengalami perubahan dan perbaikan sesuai dengan keinginan penulis tanpa menghilangkan unsur cerita yang ada — Ditulis pada tahun 2015 Fajar Jatuh Menjelma Embun Cinta akan sangat berbeda dengan naskah aslinya karena telah mengalami perubahan yang signifikan.

Tuhan, Alasan Cintamu Datang

/1/

Sebelum akhirnya perpisahan datang
menjadi alasan atas ketabahan-ketabahan.
Setidaknya biarkan Tuhan menyebutkan
bahwa sejarah cinta dan harapan
adalah salah satu cara merelakan.

Mungkin dengan begitu, segala bentuk rasamu
kekal dan tak tergantikan. Biarpun engkau telah
menyeberangi batas dunia, menuju haribaan-Nya.

Di sini segalanya, biarkan bergemuruh
karena gersang dadaku menjadi bukti
cita-cita cinta tak sampai padaku.

Laiknya sebuah pengharapan, jauh dari
ekspektasi akal. Rindu setelah kepulangan
adalah alasan-alasan untuk terus mendoakan
cintamu yang utuh dan rasaku yang terus tumbuh
bukti atas apa yang pernah kusebutkan seluruh.

Aku dan cintamu, satu fakta dari bentuk
kerelaan yang tidak sanggup merelakan.
Sebab perpisahan begitu sukar diterima
pengetahuan maupun kesadaran manusia.

Kita, adalah segala rasa
yang hidup di masa depan
namun lupa masa sekarang.

Selamat jalan, semoga tabahku tak sirna
ditelan kepedihan dan kebencian.

/2/

Jika memang nanti tiadamu benar-benar datang
semoga aku termasuk orang yang kuat
dalam mempertahankan keyakinan
dan ketabahan-ketabahan.

Jika memang nanti kepergian sudah disuratkan
oleh Tuhan dan kehidupan. Semoga aku masih
sanggup melanjutkan dan meneruskan
hidup yang berat dan penuh terjal.

Cintamu dan segala kenang yang hidup
di masa silam dan masa depan.
Jadikan aku, setangguh Pandawa
dalam cerita Mahabarata.

Mengukir cita-cita di atas nisanmu
tanpa pernah melupakan, cinta dan kamu
satu-satunya alasan mengapa Tuhan mempertemukan
meski tak bisa dipersatukan.

Setidaknya aku terus belajar
dari pengalaman-pengalaman yang kau berikan.
Setidaknya aku tetap teguh melanjutkan
meski hidup tak semudah yang dibayangkan.

Cinta dan kamu, telah mengajaran
hidup takkan berhenti meski cinta
tak bisa dipeluk mesra asmara.

Sampai bertemu kemudian
di kehidupan yang lanjut usianya
ketika sirna segala hal yang Tuhan sebut fana.

Baca Juga:  Rindu dan Ingatan yang Menyeruak Tentangmu

Sampai bertemu kemudian, denganmu
cinta tak perlu disebutkan
bertandang atau hanya sebatas singgahan.
Aku, yang mencintamu dalam setiap helaan nafasku
tak pernah risau dan ketakutan sebab Tuhan
satu-satunya alasan cintamu datang.

  • Naskah asli dari puisi ini semula berjudul Harapku di Sela Nadimu ditulis pada 21 September 2015 dan telah mengalami perubahan selama duakali 26 Agustus 2018 & 11 Juli 2019. Alasan mendasar diperbaharui karena masih mencari kecocokan dari cerita dan makna yang ingin disampaikan tanpa mengganti unsur cerita dan idenya.

Bait Doa Dari Arsy Tuhan

Bagimu melelehkan duka dari endapan perih
sebuah harap yang begitu panjang.
Laksana erosi, cipta karya puisi
mencair tanpa membawa kebal makna-maknanya.

Hari yang mungkin begitu panjang
Membentang cinta dalam banyak aksara
Segala puja, luluhkan isi dada
membawanya mengembara ke antariksa
tanpa bekal dan persiapan sebelumnya.

Mencoba menjemput segala rasa, pada
pelukanmu duka jatuh menimpa bahagia.
Dalam harap lelap sebuah penantian
mimpimu membawa perlahan, bait-bait
doa dari Arsy Tuhan yang Esa.
Menyentuh segala bahagia, tundukkan kelu di dada

Engkau dan hari yang mungkin begitu panjang
Relakanlah, kelu dan perih mendewasakan
sebelum iman di dada terkoyak runtuh.
Sebab cinta datang atas nama tuannya:
Bahagia juga lara.

Seperti aku yang masih terus mengamini
cinta dan bahagia adalah kamu
dipersembahkan Tuhan dalam wujud manusiamu.

  • Naskah asli dari puisi ini berjudul Harimu Yang Panjang yang ditulis pada bulan Desember, 2015 dan telah diperbaiki serta diperbaharui tanpa mengubah ide dan cerita aslinya.

Dalam Harap Penuhku

Cinta dan harapan semu ini
laksana peluru nyasar menembus jantung.
Membuatku terkapar tanpa ditemuan siapapun.
Aku yang terlalu berharap padamu
buah cinta pertemuan waktu itu.

Kepada waktu yang belum genap usianya
ujung senja tertutup awan kelabu.
Asaku yang mendekam dalam dan rindu
yang mengoyak perlahan. Runtuhkan
segala harap sebelum sempat kuberitahu
pada dunia, bahwa aku mencintaimu.

Kekasih yang direnggut waktu
adalah dia, menjadi ilusi bagi pengagumnya.
Setidaknya biarkanlah hari ini, sekali
dalam seumur hidup kusebutkan namamu
lebih dari seribu kali.

Dalam harap penuhku, doa
melangit menuju cita-cita
meski sangat sukar ditetapkan
sebab cinta adalah peruntungan
antara merelakan dan mengikhlaskan.

Cinta dan harapan semuku
masih menerka-nerka
takdir yang akan Tuhan berikan.

Engkau yang menjadi anugerah terindah
sekaligus pedih menyayat tabah.
Sekali saja, izinkan aku menyebutkan
namamu dalam doa-doa. Mungkin ada perubahan
atas takdir sebelumnya.

“Harapku yang tetap setia
menisbahkanmu pada utuh cinta dan rindu”.

  • Puisi ini semula berjudul Kekasih Dari Waktu yang telah mengalami perubahan serta perbaikan, ditulis pada 27 Juli 2015. Jadi akan ditemukan banyak ketidaksamaan dengan naskah aslinya.

Merelakan Yang Pergi

Kau datang dengan janji-janji
yang pernah diucapkan waktu padaku.
Menghidup-tumbuhkan rasa yang sempat mati
setelah sebelumnya masa kelam dan perjalanan
cinta penuh air mata, mengalir membasahi luka-luka.

Cita-cita yang dirangkum dalam doa
menangisi kenyataan yang pulang tergesa-gesa.
Seharusnya cinta menyadarkan dan memperkenalkanku
pada ketabahan-ketabahan yang tidak satu
orang pun menyatakannya.

Di sini, dalam dada ini
tertancap ambisi yang kau bangun dulu
mengoyak kasar penuh belati
setelah kau renggut segala mimpi.

Engkau yang pergi dengan janji-janji
dahulu, meninggalkanku di belantara
tak berpenghuni.

Dan aku yang terus bertahan
meski harus meringkuk sepi
telah mempelajari, bahwa hidup
adalah tentang meneruskan apa
yang pernah disebutkan. Tak peduli
luka terus saja menganga
karena pada intinya, engkau hanyalah mimpi
yang datang tanpa maksud menetap di sini.

Baca Juga:  Menunggu Masa Dengan Cinta dan 13 Puisi Lainnya

Selamat jalan, semoga kau menjadi kenang
berbuah pelajaran. Menjadikanku setabah
doa-doa ibu yang tak diketahui anaknya.
Selamat jalan, untukmu segala kenang
meski sempat mengecewakan. Hari ini dan
seterusnya, kurelakan penuh keikhlasan.

  • Naskah asli dari puisi ini ditulis pada 09 Agustus 2015 dan telah diperbaiki, baik frasa maupun susunan katanya. Semoga perbaikan ini lebih bisa dipahami makna dan ceritanya.

Pertolongan Tuhan

Biarkanlah malam beranjak dengan tenang
tanpa pernah melupakan masa silam.
Setidaknya terang menopang gelapnya kenangan.

Pada bayang-bayang yang perlahan hilang
belajarlah caranya berjuang meski
mulut membisu kelu tak berkata
setidaknya pemahaman mengantarkanku
pada pengetahuan, bahwa hidup
tidak semudah yang dibayangkan orang.

Nestapa kadang menerpa, memilukan dada
seperti sebilah pisau menusuk perlahan.
Namun yang harus diyakini adalah
hidup tidak berhenti begitu saja
masih ada tahapan-tahapan yang perlu
diselesaikan, sehingga kekuatan dan
pertolongan Tuhan datang menjelaskan
keadaan yang enggan menerima kenyataan.

  • Naskah asli dari puisi ini semula berjudul Yang Terkadang Pilu, ditulis pada 03 Juni 2015 dan telah diperbaharui tanpa mengubah ide cerita.

Lagu dan Doa Pengingat Ikatan

Pada malam-malam yang kita lupa
hitung detik menit putarannya,
denting waktu adalah kealpaan
yang sengaja kita buat bersama.

Ada kenang memberi tenang
pada rintih kematian di waktu
yang akan datang. Selepas malam
meminta pamit, rembulan dan bintang
adalah sekapur sirih disampaikan kehidupan.

Lagu-lagu bersenandung
menyebutkan puja dan puji syukur
atas berkah Tuhan dalam kalimat alhamdulillah.

Ada satu hal yang tidak pernah kita ingat
adalah waktu yang terus berputar, memberi
kesempatan bagi ingatan
menyimpan kenang dari petikan gitar.

Terima kasih kusampaikan padamu, sahabat
Semoga hari ini, esok dan seterusnya
masih ada waktu untuk kita
mengikat persaudaraan dan persahabatan.

Melalui tulisan ini, kuhaturkan salam
pengganti lagu yang pernah kau bawakan
di sela-sela waktu minum kopi kita.

Sekapur sirih disampaikan malam
menjadi pengingat dari kealpaan pertemuan.
Semoga kita terus hidup dalam kenang
yang membawa persaudaraan dan persahabatan.
Kekal di dalamnya, lagu-lagu dan doa-doa
yang pernah kita nisbahkan atas kepercayaan
dan keikhlasan suatu ikatan.

  • Naskah asli dari puisi Lagu dan Doa Pengingat Ikatan sebelumnya berjudul Pada Senar Gitarmu yang ditulis pada 12 Februari 2015. Puisi ini adalah sebuah persembahan untuk pertemuan dan persahabatan dengan seorang kawan.

Negeri Si(apa)?

Monolog:

Mari kita heningkan sejenak kota dan halaman ini, biarkan udara menyekap senyap helaan nafas kita, biarkan riuh bunyi kendaraan menyerang ketenangan dan membuat ramai segala sudut juga dinding tebal kehidupan yang seakan-akan tidak memihak keadaan.

Orang-orang yang termarjinalkan, berkumpullah kemari, dengarkan segala isi hati dan pahami segala makna sebuah puisi yang kami beri; yang kami sampaikan kepada penjuru bumi; yang kami bacakan bersama kawan sejati, cinta dan harapan masih menjadi janji yang belum juga mengenal pasti. Untuk beberapa waktu ke depan, biarkan halaman ini tetap sunyi, sesunyi alam yang tak lagi bernyanyi.

Kendaraan terus saja berlalu lalang, orang-orang yang sibuk mencari nafkah dan bersusah payah menggenapi kebutuhan sehari-hari. Di Panggung Rakyat ini, kita semua punya satu ambisi; punya satu tujuan; punya satu keyakinan, untuk saling berbagi dan menjalin hubungan rakyat pribumi.

Untuk orang-orang yang datang dari luar kota dan orang-orang yang memang asli dari kota ini, seluruh rakyat yang sedang bermimpi tetaplah bersama sampai acara ini selesai. Sekali lagi, mari kita heningkan sejenak kota dan halaman ini agar ucapan dan pembelaan terdengar seperti sebuah khotbah para priyayi.

Baca Juga:  Untukmu Seluruhku dan 6 Puisi Lainnya

Pembacaaannya Diiringi Musik

Kawan, di mana letak kebenaran?
Undang-undang yang berkumandang seakan
menjadi bumerang tersendiri
bagi kita orang-orang yang mencari
nafkah dan kebutuhan sehari-hari.

Dasar negara kita Pancasila, senantiasa meneriakkan
kebanggaan penuh pasti dan tak terelakkan.
Sila-sila terurut rapi penuh arti, setiap hal
tersirat di dalamnya hanya sebatas ideologi
tak bisa dimengerti sepenuhnya oleh mereka
yang memakan hati dan hak rakyatnya.

Ah, negeri ini seperti gundukan duri
Negeri apa ini Tuan?
Adakah dari salah satu kalian memberi jawaban?
Ah, negeri ini seperti tumpukan tubuh yang mati
Ini negeri milik siapa Tuan
Adakah ia berpenghuni setan-setan?

Alibi dibuat sebagai pungli
Apakah ini yang dinamakan negeri demokrasi?
Apakah ini yang dinamakan hidup penuh bakti
Setelah merdeka puluhan tahun
masih seperti terjajah di negeri sendiri?

Jika aku boleh bertanya kepada kalian para penguasa
dan wakil-wakil rakyat di negeri ini.
Masih adakah keadilan itu atau memang
keadilan tercipta sebatas ilusi,
Menggerogoti setiap hidup rakyat sendiri?

Ah, lagi-lagi hidup seperti dijajah
Kita seperti pengungsi di negeri sendiri
setelah semua hal yang diberikan oleh kami.
Bakti tiada lagi berarti
Kami kering seperti pasir tak berair
Kami hutan, digerogoti tikus-tikus luar negeri
Investasi dan modal terus masuk tanpa henti
Menjadikan kami orang-orang pinggir tak berarti
Kami tak terhitung sebagai satu kesatuan masyarakat dalam negeri

Dibaca Bergantian Pada Bait Ini Sampai Bawah

Inikah demokrasi dan keadilan yang banyak dibicarakan?
Hai para penguasa yang duduk manis di belakang meja
Nasib rakyatmu di sini terlunta
Di manakah letak hati yang awalnya memerangi?

Masihkah keadilan tersisa meski
setipis kapas dan seringan tepung padi?
Jika kalian bertanya ini adalah keadilan atau bukan
Kami tentu dan sudah pasti menjawab
Ini adalah bentuk penindasan
Ini adalah perampasan yang beralih-alih kenyamanan

Kenyamanan dan ketenangan, di manakah ia bersembunyi?
Di kolong meja para koruptor
Di mana letak tatanan penuh kedamaian?
Apa dengan penggusuran lahan yang kami huni?
Apa dengan pengklaiman hak tinggal?
Seperti hidup namun mati seribu kali

Mereka berteriak sembari
memohon, lagi-lagi rakyat kecil menjadi korban
penuh siksaan.

Lihatlah para penguasa yang hidup
dengan penuh kehormatan.
Tidakkah kau dengar
Ada tangisan yang mereka tahan
Ada gumpalan derita yang mereka pendam

Ah, negeri ini sungguh membuat kami mati
Menjadi pengungsi dan terlunta-lunta
Negeri apa ini Tuan?
Hanya ada air mata yang tertahan
Hanya ada perih tak terekam
dan luka yang terus terbuka menganga.

Negeri apa ini Tuan?
Hidup namun seakan mati
Merdeka namun dijajah penguasa sendiri

Ah, negeri apa ini tuan?
Berkembang namun banyak yang menangis sejadi-jadi
dalam lumpur kotor
kami bertempur dengan orang-orang sendiri.

Negeri ini milik kami atau hanya penguasa?
Negeri siapa ini Tuan?
Kami menjadi bakteri atau menjadi satu dalam bakti?
Hidup ini seperti pengungsi
Mati dan lapar menjadi kebiasaan sehari-hari
Negeri siapa ini Tuan?

  • Puisi ini ditulis pada 22 Maret 2015 dan pernah dibacakan dalam kegiatan Panggung Rakyat di titik Nol Kilometer Yogyakarta saat terjadi penggusuran pedagang asongan.

Fajar Jatuh Menjelma Embun Cinta dan 7 (tujuh) Puisi Lainnya ini ditulis oleh Ahmed Fauzy Hawi pada tahun 2015 di blog pribadinya, meskipun tidak sama dengan naskah aslinya namun ide cerita dan maksud puisi Fajar Jatuh ini masih sama. Semoga bermanfaat.

About Ahmed Fauzy Hawi

Content Writer, Poetry Author, Editor, and Student College at Tjokroaminoto Univerisity (Univeristas Cokroaminoto Yogyakarta) - Mahasiswa jurusan Manajemen dengan konsentrasi Sumber Daya Manusia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *